Sosial Distancing
(Bandung, 27 Februari 2020)
After 2 weeks I've been in Jambi again, many anxieties muncul, you know dunia sekarang diserang sama pandemi COVID-19. Hal pertama yang ingin ku ceritakan adalah kondisi setelah 2 minggu balik ke Jambi, well di sini kayak gak ada apa-apa, orang-orang masih keluar, masih nongkrong2, habis pikirku liat orang-orang yang masih menyepelekan pandemi ini. Data positif di Jambi sampai skrg masih 2 orang, yaa kita tau kalau itu bukanlah data lapangan sebenarnya. Menurutku negara gagal mengendalikan rakyatnya, gagal mengambil alih kekuasaan untuk mengurangi penyebaran virus ini, negara kurang tegas menghadapi pandemi ini, negara tidak transparan terhadap angka2 statistik mengenai pandemi ini. Indonesia bukan negara yang penduduknya sedikit, Indonesia adalah bom waktu. Mungkin tidak lama lagi, kejadian seperti Italia akan muncul di sini. Kita sebagai masyarakat masih banyak yang belum siap, masih banyak yang belum mengerti, masih banyak yang bebal, masih banyak yang menyepelekan arahan pemerintah. Sia-sianya pahlawan terdahulu kita menyatukan bangsa, sia-sianya kurikulum pendidikan yang mengombar-gombarkan rasa cinta tanah air, gagalnya pendidikan kita untuk membentuk karakter anak bangsa, sangat terlihat di tengah kekacauan dunia.
After 2 weeks I've been in Jambi again, many anxieties muncul, you know dunia sekarang diserang sama pandemi COVID-19. Hal pertama yang ingin ku ceritakan adalah kondisi setelah 2 minggu balik ke Jambi, well di sini kayak gak ada apa-apa, orang-orang masih keluar, masih nongkrong2, habis pikirku liat orang-orang yang masih menyepelekan pandemi ini. Data positif di Jambi sampai skrg masih 2 orang, yaa kita tau kalau itu bukanlah data lapangan sebenarnya. Menurutku negara gagal mengendalikan rakyatnya, gagal mengambil alih kekuasaan untuk mengurangi penyebaran virus ini, negara kurang tegas menghadapi pandemi ini, negara tidak transparan terhadap angka2 statistik mengenai pandemi ini. Indonesia bukan negara yang penduduknya sedikit, Indonesia adalah bom waktu. Mungkin tidak lama lagi, kejadian seperti Italia akan muncul di sini. Kita sebagai masyarakat masih banyak yang belum siap, masih banyak yang belum mengerti, masih banyak yang bebal, masih banyak yang menyepelekan arahan pemerintah. Sia-sianya pahlawan terdahulu kita menyatukan bangsa, sia-sianya kurikulum pendidikan yang mengombar-gombarkan rasa cinta tanah air, gagalnya pendidikan kita untuk membentuk karakter anak bangsa, sangat terlihat di tengah kekacauan dunia.
Ketika merebaknya virus ini di Indonesia, para pencari untung
menimbun masker, makanan, dll kemudian dijual dengan harga yang sangat tinggi.
Banyaknya masyarakat selfish, mengedepankan kepentingannya sendiri, memakai APD
standar untuk belanja ke supermarket, that's funny things. Tenaga medis yang merupakan
tentara terdepan untuk saat ini, malah tidak menggunakan APD standar, lucunya
masyarakatmu pak.
Hehe, sekian dulu dari saya hanya segitu. Karena tidak ada
teman berdiskusi lagi berusaha stay at home.

Komentar
Posting Komentar